Ngaku, Siapa yang Ketiduran Pas 7 Habits Daring? Saatnya Coba yang Lebih Seru!
Bogor – Pelatihan Penguasaan Diri berbasis The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey menjadi bagian penting dari Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) IPB University. Pada 6 Agustus 2025, di hari ketiga pelatihan, fasilitator utama kelompok Laskara Nivasa dan Laskara Gavana, Dr. Iyep Komala, S.Pt, M.Si, memanfaatkan kesempatan untuk menggelar sesi luring yang lebih interaktif dan berkesan.
Acara dimulai pukul 07.00 di depan Gedung Widyatama (GWW) dengan jalan santai menuju Aula AHN, dilanjutkan dengan pembahasan Habit 5, 6, dan 7, pengambilan video untuk konten, dan internalisasi kelompok.
Dr. Iyep Komala memulai dengan pembahasan kebiasaan 5, Seek First to Understand, Then to Be Understood, yang menekankan pentingnya mendengarkan dengan empati sebelum berbicara atau memberikan solusi. “Jangan terburu-buru menawarkan solusi. Dengarkan dulu dengan penuh perhatian untuk memahami perspektif orang lain, baik itu teman, dosen, atau staf kampus,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebiasaan ini membantu mahasiswa membangun komunikasi yang efektif, terutama dalam lingkungan akademik yang beragam. Dengan mendengar secara aktif, mahasiswa dapat menghindari kesalahpahaman dan membangun hubungan yang lebih harmonis, sebuah keterampilan penting untuk kolaborasi di kampus.
Kebiasaan 6, Synergize, berfokus pada kekuatan kerja sama untuk mencapai hasil yang lebih besar daripada bekerja sendiri. “Sinergi berarti menghormati dan memanfaatkan perbedaan, termasuk menghargai peran satpam, petugas kebersihan, dan semua elemen di kampus,” ujar Dr. Iyep. Ia menjelaskan bahwa sinergi memungkinkan mahasiswa untuk menggabungkan ide dan kemampuan masing-masing, menciptakan solusi kreatif dalam kelompok belajar atau proyek kampus. “Di IPB, kalian akan bekerja dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Hormati perbedaan yang ada,” tambahnya.
Kebiasaan 7, Sharpen the Saw, menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan fisik, mental, dan emosional agar Habit 1 hingga 6 dapat diterapkan secara optimal. “Tanpa keseimbangan, kalian akan sulit menjalani perkuliahan dengan baik. IPK tinggi tidak berarti jika mental dan fisik tidak sehat,” kata Dr. Iyep. Untuk memperkuat poin ini, ia mengajak mahasiswa berbagi cara mereka melakukan me time. Beragam jawaban muncul, mulai dari rebahan, membaca buku, kulineran, bermain game, mendengarkan lagu, bermain rubik, biola, ngopi, hiking, hingga aktivitas lain yang mencerminkan keunikan masing-masing peserta. Diskusi ini membantu mahasiswa menyadari pentingnya waktu pribadi untuk menjaga keseimbangan hidup.
Selain itu, pelatihan 7 Habits yang dilakukan secara luring ini sendiri merupakan bentuk nyata penerapan kebiasaan 7, karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk merawat diri dan membangun keseimbangan lewat interaksi langsung yang lebih interaktif dan berkesan.
Setelah sesi materi, peserta mengikuti permainan kelompok yang memperkuat kekompakan. Mereka membentuk lingkaran sambil saling menautkan pergelangan tangan, mengikuti instruksi fasilitator seperti “kanan,” “kiri,” “atas,” atau “bawah” secara kompak. Tantangan meningkat dengan instruksi terbalik, misalnya bergerak ke kiri saat disuruh “kanan.” Permainan ini menyoroti pentingnya bersinergi dengan kelompok.
Muhamad Panji Abbi Riady, mahasiswa baru dari Kuningan, Jawa Barat, menyebut Habit 3 tentang prioritas sebagai favoritnya. “Konsep empat kuadran membantu saya fokus pada hal penting,” katanya. Oriza Virgiawan dari Jambi lebih menyukai Habit 7 karena relevansinya dengan keseimbangan hidup. “Pelatihan luring bikin materi lebih nyantol, kalau daring suka ngantuk,” tambahnya. Bariq Ramadhan Yukio Sarva dari Yogyakarta mengaku awalnya kewalahan dengan tugas di guidebook, tetapi akhirnya menikmati prosesnya. “Pas dijalani, ternyata enjoy,” ujarnya.
Peserta menilai pelatihan luring jauh lebih efektif dibandingkan daring. “Interaksi langsung bikin lebih paham,” kata Oriza. Mereka menyarankan agar pelatihan 7 Habits lebih banyak diadakan secara luring untuk menjaga fokus dan semangat.
Berbeda dari kelompok lain yang mengikuti sesi daring, Laskara Nivasa dan Gavana mendapat kesempatan istimewa menjalani sesi luring. Dengan materi inspiratif, permainan kelompok, dan interaksi langsung, pelatihan ini sukses membekali mahasiswa baru IPB untuk memulai perjalanan akademik dengan pola pikir terstruktur dan seimbang.
Selama tiga hari, seluruh mahasiswa baru IPB 62 diajak memahami tujuh kebiasaan positif secara bertahap. Kegiatan berlangsung empat jam per hari, difasilitasi oleh dosen IPB University yang berperan sebagai fasilitator. Setiap kelompok dipandu oleh Penanggung Jawab Kelompok (PJK) dari mahasiswa tingkat dua yang berperan penting sebagai penghubung antara peserta dan fasilitator.
Hari pertama pelatihan difokuskan pada pengenalan konsep dasar 7 Habits, khususnya kebiasaan pertama: Be Proactive. Peserta diajak mengenali pentingnya tanggung jawab pribadi dalam mengambil keputusan, alih-alih menyalahkan keadaan. Sikap proaktif menjadi pondasi awal untuk membangun karakter mandiri di lingkungan kampus.
Pembahasan berlanjut di hari kedua dengan tiga kebiasaan yang membentuk arah hidup: Begin with the End in Mind, Put First Things First, dan Think Win-Win. Melalui kebiasaan ini, mahasiswa didorong untuk memiliki visi jangka panjang, mampu menyusun skala prioritas, serta menjalin relasi yang saling menguntungkan, baik dengan teman, dosen, maupun pihak lainnya.
Hari ketiga membahas tiga kebiasaan lanjutan yang mendukung pengembangan relasi dan diri: Seek First to Understand, Then to Be Understood, Synergize, dan Sharpen the Saw. Mahasiswa dilatih menjadi pendengar aktif, membangun kolaborasi dalam tim, dan menjaga keseimbangan fisik, mental, sosial, serta spiritual. Materi dikemas secara interaktif melalui pemaparan visual, diskusi kelompok, dan kuis reflektif.
Pelatihan ini tidak hanya berisi ceramah satu arah. PJK dan fasilitator mendorong peserta untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman. Beberapa kelompok bahkan memanfaatkan sesi akhir pelatihan untuk menyusun rencana aksi sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan perkuliahan seperti pembuatan weekly planner.
Mutiara, mahasiswa Program Vokasi Prodi Manajemen Industri dari kelompok Wanasena Etera, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru baginya. “Awalnya saya penasaran, makanya sempat tanya-tanya ke kakak PJK. Setelah dijelaskan oleh fasilitator kami saat sesi tatap muka, saya jadi sadar ini penting sekali,” jelasnya. Ia merasa bahwa kebiasaan Be Proactive paling berdampak. “Saya biasanya nunggu diarahkan. Sekarang saya lebih berinisiatif,” ujarnya.
Senada dengan Mutiara, Alia Desna Putri dari Departemen Fisika FMIPA juga menyambut hangat kegiatan ini. “Awalnya saya sempat tegang, tapi ternyata penyampaiannya sangat santai dan mudah dimengerti. Kami juga semangat saat kuis, jadi suasananya hidup,” ujarnya. Ia menyoroti Be Proactive dan Think Win-Win sebagai bekal penting untuk membangun kepercayaan diri dan kerja sama di dunia kampus.
Melalui pelatihan ini, IPB University menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa baru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga resilien, kolaboratif, dan fokus dalam mencapai tujuan di dunia kampus.
Simak artikel lainnya
Sebutin Lima Nama Ikan di MPKMB Bisa Dapat Sepeda??
student orientation FAQ Aduan Sebutin Lima Nama Ikan di MPKMB Bisa Dapat Sepeda?? Naila Hafizah
Kamu Gak Datang Closing MPKMB? Rugi Dong!
student orientation FAQ Aduan Kamu Gak Datang Closing MPKMB? Rugi Dong! Naila Hafizah Bogor —
Seandainya Kau Tahu… Vierratale di IPB!
student orientation FAQ Aduan Seandainya Kau Tahu… Vierratale di IPB! Naila Hafizah Vierratale Meriahkan Penutupan
Jelajahi perjalanan menjadi mahasiswa bersama rangkaian
OMB IPB 62
Student Orientation
IPB
Alamat
Kampus IPB,
Jl. Raya Dramaga, Babakan, Kec. Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16680
© Sistem Informasi - OMB IPB 62