Logo

Ekspektasi vs Realita: Kesan Pertama Maba IPB 62 di Kampus Dramaga

Bogor – Kedatangan ribuan mahasiswa baru (maba) IPB University sejak 28 Juli 2025 membawa warna tersendiri bagi kehidupan kampus Dramaga. Mereka hadir untuk mengikuti Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) 62, yang menjadi pintu gerbang awal memasuki dunia perkuliahan. Bagi sebagian besar, ini adalah kunjungan pertama mereka ke kampus utama IPB yang terkenal dengan lingkungan hijau dan luasnya mencapai ratusan hektare.

Aulia Hanum, maba asal Jakarta Timur, mengaku terkejut dengan kondisi cuaca di Bogor. “Ternyata cuaca di Bogor tidak menentu. Siang bisa panas sekali sampai terasa menyengat, tapi sore tiba-tiba hujan deras. Cucian jadi susah kering,” ungkapnya. Meski begitu, Hanum mengapresiasi biaya makan di sekitar kampus. “Makanan murah-murah, cocok untuk kantong pelajar,” tambahnya.

Rekan sekelompoknya, Amel, merasakan hal serupa. “Kalau mau keluar tanpa payung, rasanya nyengat sekali. Saran saya, bawa payung yang ada perlindungan UV,” ujarnya. Amel juga menyoroti lalu lintas di Bogor yang padat. “Banyak angkot, warnanya sama tapi jurusannya beda-beda. Bikin bingung pendatang baru,” katanya.

Sementara itu, Okta menilai skala kampus IPB jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. “Aku sudah keliling naik bus kampus, tapi belum ke semua tempat,” tuturnya. Ia juga mengaku sudah beberapa kali kehujanan meski baru beberapa hari di Bogor. “Kalau enggak bawa payung, pasti hujan. Kalau bawa payung, malah enggak jadi hujan,” ujarnya sambil tertawa.

Kesan lain datang dari kelompok Laskara Nivasa. Panji, maba asal Kuningan, membagikan cerita unik terkait transportasi. “Hari ketiga di sini, saya hampir berantem sama sopir angkot. Kaki saya kelindes karena dia tiba-tiba belok kiri,” bebernya. Insiden itu membuatnya teringat materi 7 Habits tentang bersikap proaktif dan reaktif.

Bariq Ramadhan Yukio Sarva dari Yogyakarta, yang mengamati hujan deras di Dramaga beberapa hari terakhir, mengaku cuaca di sini berbeda dibanding daerah asalnya. “Hujannya per daerah. Pernah hujan di Dramaga, tapi di Bara kering,” katanya.

Bagi Oriza Virgiyawan dari Jambi, lalu lintas adalah hal yang cukup mengejutkan. “Macetnya bener-bener macet banget. Awal-awal enggak terlalu parah, tapi menjelang minggu pertama Agustus dari pagi sampai malam padat,” ujarnya. Meski begitu, empat maba dari Laskara Nivasa sepakat bahwa harga makanan di sekitar IPB relatif terjangkau. “Lebih bagus dari ekspektasi. Pilihannya beragam dan harganya cocok,” ujar Faris dari Jakarta.

Bagi para maba, adaptasi terhadap cuaca dan lalu lintas menjadi tantangan utama di hari-hari pertama. Namun, faktor positif seperti harga makanan yang ramah di kantong dan fasilitas kampus yang sesuai ekspektasi memberi kesan awal yang menyenangkan sekaligus berkesan. Hari-hari pertama di Dramaga menjadi cerita yang memadukan kejutan, tawa, dan semangat beradaptasi untuk menjalani perjalanan panjang di IPB University.

Baca Artikel Lainnya